9.03.2015

Kisah Nyata, Mau Dapat Beasiswa ke Luar Negeri? Berbuat Baiklah!


Kisah nyata ini terjadi di penghujung tahun 2014. Sebut saja namanya Zila. Zila merupakan salah seorang mahasiswi di perguruan tinggi negeri di Indonesia. Sudah sejak lama dia mengharapkan mendapatkan kesempatan agar dapat mengunjungi negeri idamannya sejak kecil yaitu Jepang. 

 
Zila sebenarnya bukan belum pernah keluar negeri. Zila sebenarnya sudah beberapa kali keluar negeri, dengan bekal kemampuan akademis yang baik, kesempatan untuk mengunjungi negara lain sering menghampiri. Namun Zila tidak bisa berbuat apa ketika kesempatan untuk dapat mengunjungi negeri sakura belum pernah manghampirinya. 

Sampai suatu hari, saat itu Zila sedang duduk saja menunggu jam perkuliahannya dimulai. Karena ada kemungkinan tidak ada dosen, Zila lantas mencoba menanyakan keberadaan dosen kepada staff administrasi. Setelah bertanya dan mendapatkan jawaban yang tidak begitu memuaskan (kayak, ah? Dosennya ngga ada ya? Ngga tau ibu…) Zila pun memutuskan untuk kembali untuk duduk dan menunggu. 

Namun, ada yang menghentikan langkah Zila menuju ke tempat duduk asalnya. Adalah seorang perempuan paruh baya yang sedang kebingungan akan sesuatu. Sekilas terdengar percakapan perempuan tersebut dengan ibu staff administrasi kampus yang baru saja ditanyai oleh Zila.

Perempuan itu: “Ibu mohon tanya, tau tempat senat mahasiswa ngga Bu, saya mau menyampaikan surat?”
Staff administrasi: “Waduh ngga tau dek, dimana ya?!”

Tanpa diduga, ibu staff administrasi itu justru menoleh ke saya dan bertanya, “Dek tau tempat senat mahasiswa katanya?” Sontak saja saya bilang tempatnya ke perempuan paruh baya tadi. 

Dengan suasana yang agak rintik-rintik (kok malah jadi romantis sih? Kan harusnya tutorial beasiswa) Zila pun menerangkan bagaimana caranya agar dapat menuju tempat senat mahasiswa. Setelah dikasi penjelasan, Zila sadar bahwa raut muka peremuan tersebut ternyata bukannya malah tercerahkan tapi jadi terbingungkan. 

Melihat kondisi ini, dengan senang hati (karena dia tau juga ngga lain ngapain) Zila menawarkan bantuan untuk mengantarkan perempuan itu ke lokasi, yang tentunya dijawab dengan anggukan oleh perempuan tersebut. Merekapun akhirnya berjalan ke lokasi yang sebenarnya hanya berjarak 15 meter-an saja (maklum kampus kecil). 

Nah, beberápa langkah menuju lokasi inilah keajaiban itu terjadi, Zila dengan tanpa praduga apa-apa bertanya kepada perempuan tadi, “Mau bawa surat apaan Mbk?” dan perempuan itu menjawab dengan datarnya “Ini Dek, saya bawa surat undangan untuk mengikuti seleksi pertukaran pelajar ke Jepang dengan beasiswa”

Duaaaaaaaar! Cetaaaaaar! Ceteeeeeeeeeeeer! Tak terbayangkan bagaimana perasaan Zila mendengarkan jawaban itu. 

Dengan perasaan gembira luar biasa (walaupun tetap berusaha mengontrol diri) setelah mengantar perempuan tadi menaruh surat, Zila pun menanyakan mekanisme untuk mendaftar beasiswa tersebut, sampai mereka akrhinya saling bertukar email.

Singkat cerita, Zila akhirnya melamar berhasil mendapatkan beasiswa untuk belajar selamat beberapa minggu di Jepang. 

Zila pun percaya, jika saja pada waktu itu dia tidak menawarkan pertolongan ke perempuan itu (dengan tanpa tendensi apa-apa) Zila tidak akan pernah tau informasi tentang adanya beasiswa ke negeri impiannya tersebut (karena dikampusnya memang seperti itu, atau mungkin dia yang kurang gaul, wkwkwk). 

Moral value-nya, adalah terkadang untuk mendapatkan beasiswa tidak hanya perlu kecerdasan, keuletan, ketekunan apalagi kekayaan. Kalau itu semua belum berhasil, coba deh tamabahin dikit dengan berbuat baik yang ikhlas, siapa tahu mendapatkan sesuatu yang bermakna.

Sekian ceritanya, good luck!

NB: Atas masukan pelaku kehidupan, nama dan beberapa poin disamarkan. 

Share:

2 comments:

  1. sangat menginspirasi, menurut agan kalau cari beasiswa ke luar negeri lebih bagus di negara-negara Asia atau Eropa ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Kirana, untuk hal itu,akan sangat tergantung dari bakat, minat, kemampuan dan juga kualitas institusi yang dituju. Good luck!

      Delete