6.27.2014

Apa yang Menarik dari Kompetisi Peradilan Semu Philip C. Jessup?


Bagi sebagain mahasiswa fakultas hukum di Indonesia kata peradilan semu sudah tidak asing lagi. Hal ini tidak terlepas dari mulai banyaknya diselenggarakan kompetisi peradilan semu di Indonesia. Tercatat terdapat lebih dari lima kompetisi peradilan semu di Indonesia. Sebagian besar diselenggarakan oleh universitas yang tergabung di dalam Himpunan Komunitas Peradilan Semu Indonesia (HKPSI). Tidak mau ketinggalan, Universitas Udayana pun menyelenggarakan kompetisi peradilan semunya sendiri. Kompetisi yang dinamai dengan nama Kompetisi Peradilan Semu Piala Tjokorda Raka Derana ini diselenggarakan setiap dua tahun sekali dan sudah diselenggarakan sebanyak dua kali.

KakangWeb at Jessup 2014 International Round (Washington D.C., USA)


Seiring dengan berjalannya waktu, jenis kegiatan kompetisi peradilan semu yang diikuti oleh universitas-universitas semakin beragam. Tidak hanya mengikuti kompetisi peradilan semu yang diselenggarakan pada tingkat nasional saja, banyak universitas di Indonesia sekarang ini juga sudah mengikuti kegiatan kompetisi peradilan semu internasional.

Berbicara perihal kegiatan kompetisi peradilan semu internasional, sekarang ini sudah terdapat banyak sekali jenis kegiatan peradilan semu internasional. Beberapa jenis peradilan semu internasional yang terkenal diantaranya: International Philip C. Jessup Moot Court Competition, International Humanitarian Law Moot Court Competition, Asia Cup Moot Court Competition, dan lain sebagainya.

Diantara banyaknya kompetisi peradilan semu internasional yang diselenggarakan salah satu diantaranya terkenal sebagai kompetisi tertua dan memiliki prestise paling tinggi diiantara jenis kompetisi peradilan semu internasional yang lain. Kompetisi itu adalah International Philip C. Jessup Moot Court Competitin (Jessup).

Jessup adalah kompetisi peradilan semu internasional yang paling besar dan tua di dunia.  Diikuti lebih dari 800 fakultas hukum di Dunia di lebih dari 90 negara, kompetisi ini memberikan prestise yang tinggi bagi para peserta yang mengikuti kompetisi ini. 

Kompetisi yang secara umum memliki dua tahapan ini, ronde nasional dan ronde internasional, mampu melatih kemampuan dan keahlian hukum seorang calon sarjana hukum. Hal ini dikarenakan kompetisi ini memerlukan banyak kompetensi dari para peserta, bukan hanya dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis, peserta juga dituntut memiliki kemampuan menulis tuntutan dalam bahasa inggris, legal reasoning, analisa hukum dan juga kemampuan bicara didepan umum. Sebagai seorang calon sarjana hukum jelas kemampuan diatas adalah sesuatu yang sangat krusial untuk dimiliki.

Namun, bila dilihat lebih jauh ternyata kompetisi Jessup ini tidak hanya penting dan bermanfaat bagi para peserta, tapi juga bagi universitas dan negara dimana para peserta ini berasal. Mari kita ambil Indonesia sebagai contoh. Sebagai subuah negara yang sedang berkembang, Indonesia jelas sekali membutuhkan banyak pengacara-pengacara yang menguasai hukum internasional.

Apalagi sebagai sebuah negara yang sering memiliki sengketa hukum dengan negara lain dikancah peradilan internasional. Kehadiran kompetisi yang menggunakan format Mahkamah Internasional sebagai mekanisme persidangannya ini jelas akan membantu mempersiapkan para calon pengacara yang nantinya akan mewakili Indonesia dalam sengketa-sengketa hukum internasional yang mungkin akan terjadi di masa depan. 

Tentu saja masih banyak terdapat manfaat-manfaat lain dari kegiatan Jessup ini. Namun dari penjelasan diatas dapat dilihat banyak hal positif yang akan didapatkan oleh seorang mahasiswa hukum dalam mengikuti kompetisi peradilan semu internasional utamanya Philip C. Jessup Moot Court Competition. Sebagai seorang calon sarjana hukum sudah merupakan kewajiban untuk terus melakukan pembenahan diri guna menyiapkan diri sebagai calon pengacara dan calon wakil Indonesia di peradilan dan sengketa internasional yang sebenarnya.

Share:

0 comments:

Post a Comment