8.28.2012

Untung diingatkan kawan! Let’s get lost!


Halo kawan-kawan semua, apa kabar? Sudah lama saya tak menulis di blog ini, sebenarnya sudah dari beberapa waktu ini saya vakum menulis, entah karena males atau tidak sempat. Untungnya, sebelum saya terjerumus di lubang kemalasan menulis kemarin malam saya diingatkan oleh seorang teman yang kini tengah menempuh pendidikan di Chonnam National University di Korea Selatan. Dengan baik hati dia menanyakan apakah saya tidak akan menceritakan kisah kasih #buset bahasanya# perjalanan hidup saya saat menempuh pendidikan di Amerika Serikat, tepatnya di University of Utah.


Sebenarnya sebelum berangkat ke AS saya sudah bertekad akan menuliskan pengalaman saya belajar disini, sembari ingin berbagi pengalaman siapa tahu ada diantara kawan-kawan who find it kinda useful. Tapi baru hari ini hal itu terwujud. Pada tulisan ini saya akan bercerita mulai dari keberangkatan saya ke Amerika.
Tepat pada tanggal 8 Agustus 2012, saya melangkahkan kaki saya ke bandara Ngurah Rai Denpasar Bali, saya harus berangkat ke Jakarta untuk melakukan pre-departure orientation sebelum saya berangkat Amerika keesokan harinya. Diantar oleh keluarga dan kawan-kawan tercinta saya pun meninggalkan pulau tempat lahirku. Walaupun ada banyak hal yang dipikirkan, mulai dari dokumen yang harus dibawa, berat koper, sampai jumlah dollar yang dibawa. Untunglah semua berjalan lancar, berat koper saya pas, yaitu 22,7 KG, maksimum berat koper yang diizinkan oleh maskapai saya kala itu adalah sebsar 23 KG, kalo lebih satu ons saja saya harus membayar 75$, pusing kan.



Untungnya lagi, secara kebetulan atau mungkin karena sudah takdir, pada saat saya ke Jakarta, dosen saya dari Universitas Udayana juga ada acara di Jakarta, jadi kita satu penerbangan, airport tax pun dibayari beliau, sungguh saya berhutang budi banyak kepada beliau.

Singkat cerita, sampailah saya di Jakarta, dengan menyewa taksi saya dengan didampingi dosen saya menuju hotel tempat saya menginap. Jangan salah sangka dulu, saya bukan menyewa hotel sendiri, tapi hotel ini sudah di booking terlebih dahulu oleh lembaga penyedia beasiswa saya.

Setelah membayar sewa taksi, ini pun dibayari oleh dosen saya, saya pun ditraktir makan malam oleh beliau. Sungguh saya berhutang budi pak, terimakasi ya. Sekembalinya ke hotel, setelah diberikan beberapa pesan oleh dosen saya, saya pun kembali ke kamar. Namun bukannya istirahat karena besok harus menghadapi orientasi dan penerbangan lintas benua, saya malah nonton Geographic Channel sampai tengah malam. Sungguh terlalu, lucunya lagi, judul acara saat itu adalah “Let’s get lost”. Jadi acara ini sedikit menenangkan saya bahwa nanti kalo-kalo saya tersesat dan ga sampe di Amerika, berarti it’s fun. Hahahhaha.

Sampailah keesokan harinya, saya pun bergegas menyiapkan diri dan berkemas lagi, bersiap untuk melakukan orientasi di kantor AMINEF. Setelah sampai dan menunggu sebentar orientasi terakhir pun dimulai, saya diberikan passport, visa, DS 2019, tiket dan beberapa dokumen yang kiranya saya perlukan saat di Imigrasi airport.

Saya pun diberikan sejumlah uang sebagai bekal perjalanan. Setelah orientasi selesai, saya bergegas ke hotel untuk check out dan mengambil koper, lalu langsung cabut ke bandara. Cerita selanjutnya sebenarnya tidaklah terlalu menarik, karena hanya berpindah lokasi dari satu airport ke airport yang lain.

Dengan berbekal pengalaman melakukan perjalanan ke Luar Negeri, Russia, dulu ketika masih SMA. Saya pun tidak terlalu merasa khawatir akan judul acara tadi malam. Karena terus terang, saya sama sekali tidak merasa takut untuk tersesat. Hehehe. Saya pun naik maskapai All Nippon Airline, dari Jakarta ke Narita Jepang, setelah sekitar 9 jam perjalanan saya sampai di Narita. Saya sampai sekitar jam 7 Pagi waktu Narita, tapi connecting flight saya baru jalan sekitar jam 8 malam, jadi bisa dibayangkan berapa lama saya di Airport.

Akhirnya saya sampai di San Francisco yang merupakan entry port saya di Amerika. Pada saat orientasi saya diingatkan bahwa entry port merupakan tempat penentuan saya apakah jadi ke Amerika atau tidak. Karena kalau dokumen saya tidak lengkap atau ada alasan tertentu mereka akan dengan senang hati memulangkan saya balik ke Indonesia. Hahahha.

Untungnya, semua berjalan baik di San Francisco, saya pun menuju connecting flight saya ke Salt lake city, Utah. Dengan menaiki pesawat yang relative kecil, saya menuju kota tempat saya akan belajar selama satu tahun kedepan.

Huh… akhirnya saya sampai di Amerika, dengan perasaan yang bercampur aduk saya akhirnya sampai di kota tercinta Salt Lake City. Saya berpikir ini lah saatnya saya berpetualang, mencoba hal baru, mencoba tangtangan. Benar saja, Tuhan menjawab khayalan saya, dengan memberikan tantangan, saya tidak menemukan orang yang akan menjemput saya. DUH!

Setelah berjalan keliling airport dan meng e-mail kesana kemari, akhirnya saya menemukan orang yang menjemput saya. Ternyata dia datang agak telat dan tidak memakai baju merah seperti yang tertera di instruksi kedatangan saya. Pantas saja saya tidak menemukan dia. Hahahha.. Impresi pertama, ternyata bule bisa telat juga ya.. iya iyalah.. orang manusia juga kok…

Dengan sangat ramah, saya yang masih sangat girang karena sudah ada yang jemput diberikan beberapa dokumen dan buku panduan di kota saya. Lalu saya diantar ke tukang taksi, tukang taksi? Hahaha. Setelah sempat ngobrol beberapa hal, saya pun sampai di asrama tempat saya akan membaringkan badan ini. University of Utah Heritage Center…
To be continued…

#Disclaimer : Cerita diatas masih sangat tidak lengkap, karena keadaan penulis yang dijejali banyak tugas kuliah, mudah-mudahan nanti dapat dilengkapi. Salam #SaltLakeCity, 08/28/2012/ 11.05 PM.





Share:

0 comments:

Post a Comment