4.10.2012

Inovasi transportasi, solusi kemacetan di pulau Dewata

Pulau Bali merupakan sebuah pulau yang ramai dikunjungi oleh pelancong baik nasional maupun internasional. Pariwisata, tak pelak lagi menjadi penunjang kehidupan para penghuni pulau dewata ini. Sempat diguncang terorisme, pariwisata Bali kini sudah membaik dan mulai menunjukkan trend positif, dimulai dengan keberhasilan menyelenggarakan berbagai event internasional, seperti ASEAN Summit baru-baru ini.

Sayangnya, trend positif tersebut masih diiringi berbagai macam kendala. Salah satu masalah laten dalam bidang kepariwistaan yang tengah terjadi adalah masalah transportasi, terutama masalah kemacetan (traffic jam) yang terjadi setiap hari. Hal ini tak perlu lagi disajikan dalam bentuk angka-angka dan statistik karena transportasi adalah hal yang sudah bersentuhan dengan kehidupan penghuni Bali dan pelancong setiap harinya. Masalah transportasi adalah masalah kenyamanan yang juga mempengaruhi banyak sektor kehidupan, yang paling besar untuk wilayah Bali adalah bisnis dan Pariwisata. Sudah banyak kita dengar di media massa, tentang keluhan para wisatawan yang menilai Bali sudah tidak nyaman karena seringnya terjadi kemacetan.
Sebenarnya masalah transportasi di Bali bukan saja masalah kemacetan belaka, masalah tertibnya pengguna jalan, sarana-prasarana yang masih belum mendukung dan juga rawannya bahaya kecelakaan yang bisa menimpa siapa saja. Menyikapi problematika transportasi diatas, sebenarnya ada banyak solusi inovatif yang dapat digunakan. 

Pertama, menerapkan zona berhenti kendaraan roda dua disetiap traffic light. Penerapan zona berhenti khusus kendaraan roda dua sangat efektif dalam mengurai kemacetan terutama ketika di sekitar traffic light. Sampai saat ini, sepengamatan penulis hanya terdapat satu titik di Pulau dewata yang menggunakan mekanisme ini, yaitu di simpang Catur Muka. Apabila mekanisme ini diterapkan di setiap titik traffic light yang ada di Bali akan sangat efektif untuk mengurai kemacetan. 

Kedua, Rail Train Commuting, yaitu sebuah system transportasi umum menggunakan kereta. Akan lebih baik bila mengembangkan kereta monorail. Hal ini akan sangat diperlukan Bali untuk beberapa dekade mendatang, melihat pertumbuhan jumlah kendaraan yang terus meningkat, transportasi umum yang berupa kereta monorail akan sangat diperlukan. Ketiga adalah desentralisasi (decentralization). Kemacetan di Pulau dewata disebebabkan (salah satunya) oleh banyaknya pengguna jalan yang memiliki tujuan yang sama. Contohnya, Denpasar yang menjadi pusat bisnis dan pemerintahan di Bali membuat semua orang berbondong dan menuju daerah yang sama pada saat bersamaan. Desentralisasi yang merupakan penyebaran pusat-pusat pemerintahan dan bisnis adalah salah satu langkah nyata untuk mengurai kemacetan ini. 

Smart Traffic Light adalah alternatif solusi keempat. Di Bali, Lampu setopan (traffic light) memiliki peranan yang sangat penting dalam mengurai kemacetan. Namun, hal ini masih jauh dari optimal. Perlu diterapkan mekanisme traffic light yang pintar, dalam artian mampu beradaptasi dengan situasi terkini lapangan. Misalnya, bila situasi di jalanan sangat padat maka waktu untuk penyetopan di masing-masing jalur akan diperlama sesuai dengan kebutuhan. Konsep ini sudah diterapkan di Negara-negara maju, contohnya Belanda, dan mampu mengurai kemacetan sampai dengan 20%. Alternatif solusi kelima adalah dengan mengurangi jumlah solo driver. Perlu dibuatkan regulasi untuk mengurangi jumlah (bahkan melarang) pengendara kendaraan bermotor sendirian. Hingga semester I 2011, Bali menampung sekitar 2.217.217 unit kendaraan bermotor termasuk jumlah sepeda motor yang mencapai 2.016.301 unit. Angka tersebut separuh lebih dari jumlah penduduk yang diperkirakan mencapai angka 4 juta orang. Bisa dibayangkan bila semua pendudukan Bali menggunakan kendaraannya sendirian, tidak akan ada lagi ruang untuk bergerak.

Pada dasarnya kemacetan dan masalah transportasi lainnya adalah masalah kita bersama, tidak bisa kita hanya mengandalkan solusi dari pemerintah tanpa adanya upaya dari masyarakat sendiri untuk mengurai kemacetan tersebut. Pengembangan transportasi massal, dengan pemberian insentif bagi mereka yang menggunakan transportasi massal dan meningkatkan kenyamanan pada transportasi massal merupakan salah satu alternatif solusi yang dapat diambil oleh pemerintah. Dilain pihak, masyarakat dapat berkontribusi dengan mematuhi peraturan-peraturan lalu lintas dan membatasi diri dalam menggunakan kendaraan bermotor bila tidak diperlukan (hal ini sembari kita melaksanakan program hemat nasional yang sudah mulai dicanangkan oleh pemerintah), juga untuk berupaya agar tidak berkendara sendirin, dalam artian memaksimalkan kapasitas dari kendaraan bermotor tersebut. 

Dengan adanya kerjasama dari masing-masing pihak, yang tentunya harus dilakukan terus-menerus dan konsisten, masalah transportasi di Pulau Dewata akan dapat teratasi, untuk Bali yang lebih Bali.
Share:

1 comment: