1.06.2012

Pemulung sampah, green constitution dan Kyoto protocol

Pagi ini saya bangun seperti biasa, setelah sedikit berpikir dan membangunkan teman sekos saya. Saya pun teringat tentang keinginan saya jogging (sebenarnya hanya jalan-jalan kecil saja :D). Berangkatlah saya mengitari komplek perumahan tempat kos saya berada.

Walaupun tinggal di pulau yang katanya “surga dunia” tetap saja saya tidak bisa menghirup udara segar pagi hari, padahal pagi itu waktu masih menunjuk angka 6 sebagai pertanda bergantinya malam menjadi siang. Tetap saja harus berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan oksigen yang saya butuhkan.



Setelah merasa sedikit lelah, singgah sebentar di warung jajan –warung dadakan yang tiba-tiba saja belakangan ini menjamur di pinggir jalan – tampaknya tak bisa terelakkan, seperti biasa saya menyapa sang vendor yang saat itu tengah dikerumuni pembeli. Setelah memilih jajan kesukaan pagi itu, saya rogoh kocek yang sebelumnya sudah saya siapkan sebelum berangkat jogging. Saya agak terkejut karena karena total jajan pagi itu harganya naik Rp. 500,- dari harga kemarin. Tapi sudahlah, mungkin pemerintah kembali menaikkan harga minyak goreng, sehingga ibu pedagang ini tak memiliki pilihan lain, toh saya juga tidak punya waktu untuk mengecek hal itu.

Setelah sedikit berpikir tentang kenaikan harga jajan, saya pun melanjutkan jogging. Kembali mengelilingi komplek perumahan tempat kos, sambil sesekali melihat kebelakang. Karena di komplek perumahan terrsebut banyak terdapat anjing yang siap menyambut. :D

Singkat cerita, sampailah saya didepan kos saya. Saya pun menyempatkan diri duduk sebentar di bawah pohon belimbing kesenangan. Sambil berusaha menghirup oksigen sebanyak mungkin. Tapi, usaha untuk menghirup oksigen sebanyak mungkin terhenti ketika seorang ibu lewat sambil membawa sebuah tongkat besi dan sebuah karung (sepertinya karung beras).

Ibu itu merupakan seorang pemulung sampah yang sudah sering kali saya lihat keliling di komplek perumahan tempat kos saya berada. Saya pun menyapa beliau sambil menundukkan kepala, sebuah kebiasaan yang diajarkan orang tua saya di desa ketika bertemu orang yang lebih tua. Namun, seketika itu juga saya teringat dengan tulisan di depan gang perumahan kos saya.

Tulisan itu berbunyi “Pemulung dilarang Masuk”.
Pemikiran saya terus bertanya tentang apa sebenarnya landasan dipampangnya tersebut – di banyak –tempat – walaupun sebenarnya saya belum sempat mengadakan penelitian tentang landasan orang-orang membuat tulisan seperti itu. Tapi, satu yang saya pahami, seorang pemulung sampah merupakan seorang pekerja juga, yang melakukan sesuatu dan kemudian mendapatkan sesuatu. Sama seperti para CEO di perusahaannya masing-masing.

Bahkan sebenarnya para pemulung mendapatkan nilai plus, karena sembari mencari nafkah dapat juga membersihkan lingkungan dari sampah yang kebanyakan bio undegradable atau yang tidak dapat diurai oleh bakteri tanah. Kalau mau dipikirkan sejenak pekerjaan ini sungguhlah mulia.

Lalu kenapa banyak orang – setidaknya di lingkungan saya – yang menistakan profesi ini? Mereka tidak menginginkan kehadiran pemulung – dengan memasang larangan masuknya pemulung – padahal pemulung tidak mencuri apa-apa, bahkan mereka merupakan seorang aktivis lingkungan, seorang yang paham arti green constitution dan Kyoto protocol.

Stigma negative yang sampai sekarang masih disandang oleh para pemulung sampah, hendaknya harus segera dihilangkan, karena sebenarnya, kalau saja pemerintah dan masyarakat ngeh, para activist ini bisa diberdayakan secara efektif. Mulai sekarang hormatilah para pemulung sampah dan belajarlah dari mereka untuk menjaga lingkungan.

Tulisan larangan harusnya diberikan kepada para koruptor di negeri yang sudah swasembada koruptor ini. Atau mungkin tulisan larangan bisa di tempel di markas intelektualisan di negeri ini, misalnya saja “Pencontek dilarang Masuk”. Mari kita renungkan sejenak.
Share:

0 comments:

Post a Comment