1.04.2012

Indonesia Tak Acuhkan Siswa Pintar Nan Brilian?

Ada sebuah artikel menarik dalam koran Kompas edisi 16 agustus 2010 yang berjudul “Belanda, Surga Beasiswa”. Menyimak artikel tersebut dari awal sampai akhir, rasanya semakin menunjukkan keengganan pemerintah kita untuk menangani anak-anaknya sendiri.

Sekarang ini, informasi tentang beasiswa luar negeri dapat dengan mudah kita peroleh, utamanya melalui media internet. Macamnya pun beragam, dari beasiswa yang berdasarkan tingkatan misalnya beasiswa untuk SMA, S1, S2 ataupun doktotoral, beasiswa untuk pemenang olimpiade, beasiswa murid pintar (non olimpiade), beasiswa ikatan dinas, dan masih banyak lagi jenisnya. Negara penyedia beasiswanya pun beragam, mulai dari negara maju seperti Jepang, Amerika Serikat, Belanda, sampai negara tetangga kita seperti Malaysia dan Singapura.


Banyaknya beasiswa yang disediakan negara lain untuk siswa-siswi Indonesia menunjukkan minat yang sangat tinggi dan apresiasi terhadap kemampuan intelektual siswa-siswi Indonesia. Apalagi seperti yang diberitakan koran Kompas diatas, di Belanda saja sudah ada sekitar 48 persen mahasiswa Indonesia yang mendapatkan beasiswa dari pemerintah Belanda.

Siswa-siswi di Indonesia setiap tahunnya banyak mendapatkan prestasi yang membanggakan ditingkat internasional, misalnya saja dalam ajang Chemistry Olympiad, International Physics Olympiad, International Mathematical Olympiad, dan lain sebagainya. Ini lah yang menyebabkan banyak sekali negara-negara di dunia yang melirik dan menawarkan beasiswa bagi siswa Indonesia untuk melakukan studi di negara pemberi beasiswa.

Di antara mereka bahkan ada yang berhasil meraih gelar prestisius dan luar biasa, sebagai contoh, Dr Yanuar Nugroho yang terpilih sebagai staf akademik terbaik universitas Manchester, dan Irwandi Jaswir peraih anugerah saintis muda Asia Pasifik 2009.

Sungguh menyayangkan memang jika nantinya banyak sekali warga Indonesia menjadi penemu di negara yang bukan tanah air dan kelahirannya, bahkan dalam beberapa kasus ada yang sampai berganti kewarganegaraan. Karena ketika mereka diberi beasiswa oleh asing maka wajar kalau kemudian mereka mengabdi pada negara yang memberi beasiswa. Ini merupakan bentuk return on invesntment.

Seperti kasus-kasus yang terjadi saat ini, misalnya kasus tentang berpindahnya jutaan tenaga kerja Indonesia ke luar negeri karena merasa kurang dapat berkembang di negeri sendiri, mereka ini bukan hanya para TKI (para pahlawan devisa negara) melainkan juga para guru, dosen, doktor, insinyur keluar negeri. Tahun 2007 saja ada sekitar 20-an doktor Indonesia lulusan luar negeri memilih bekerja di Malaysia, 3 orang bekerja di Brunei, dan sekitar 5 orang di Singapura.

Mungkin sekarang akan timbul sebuah pertannyaan, apa yang menyebabkan hal diatas terjadi? Ada banyak penyebab, namun hal yang paling utama adalah, kurang adanya perhatian pemerintah kita pada sektor ini. Ini meyebabkan banyak sekali orang pintar di Indonesia tidak dapat mengembangkan bakatnya, karena kurangnya perhatian dari pemerintah yang berdampak pada kurangnya dana dan sarana yang dimiliki. Ini lah yang menyebabkan banyak para ilmuwan muda Indonesia ramai-ramai hijrah keluar negeri
sembari berharap mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Kalau hal ini terus berlangsung setiap tahunnya, adalah mustahil bagi Indonesia untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Untuk itulah kita semua berharap pemerintah dan semua komponen bangsa dapat bersatu untuk dapat mendidik anak-anak kita sendiri, sehingga kita bisa mengejar ketertinggalan kita dan tentunya tidak dianggap sebagai negara yang tak acuh dengan anak didiknya yang pintar nan brilian.
Share:

0 comments:

Post a Comment