1.04.2012

Demokrasi Indonesia Kini dan Nanti

Menelaah artikel dalam kolom kompas edisi 16 Agustus 2010 yang berjudul “Demokrasi Tak Berkualitas Merugikan Rakyat Kecil”, saya percaya bahwasanya demokrasi di Indonesia memang belum dewasa. Walaupun sudah dirintis sejak enam puluh lima tahun yang lalu, demokrasi di negara yang sangat kita cintai ini masih berjalan terseok seok dan terkesan hanya retorika.


Pada dasarnya negara yang berdemokrasi adalah negara yang berdasarkan kedaulatan rakyat, negara yang memprioritaskan rakyatnya. Namun, kenyataanya di Indonesia masih banyak terjadi hal-hal yang menyimpang dari apa yang dimaksudkan dengan demokrasi. Selama ini media selalu disibukkan dengan pernyataan dari berbagai macam pejabat, mulai dari DPR, pemerintah, Jaksa dan lain sebagainya.
Mereka selalu vokal dengan kehidupan berdemokrasi di Indonesia, tapi yang menarik adalah, mereka bukannya saling membantu dalam mewujudkan demokrasi di Indonesia, namun malah saling menyalahkan. Legislatif menyalah kan pemerintah, eksekutif menyalah kan DPR dan seterusnya, seperti yang tercantumkan dalam koran kompas edisi 16 Agustus 2010, salah satu anggota DPR RI menyatakan bahwa demokrasi di Indonesia gagal menyejahterakan karena memiliki kualitas yang jauh dari harapan.

Lalu, demokrasi yang bagaimana yang diharapkan oleh DPR kita, apakah demokrasi yang dimana lembaga legislatifnya dapat seenaknya menggunakan uang rakyat (contoh: Gaji 60 jt/bulan, gedung baru Rp 1,8 T, renovasi rumah 445 M, laptop baru Rp 12 M dan mobil mewah pimpinan legislatif) atau yang bagaimana?

Inilah yang membuat demokrasi kita terkesan belum dewasa walaupun usianya yang terbilang sudah dewasa. Memang legislatif memiliki fungsi kontrol terhadap pemerintah, tapi bukan untuk mencari kesalahan (fault-finding) lawan untuk menguntungkan diri sendiri. Ini juga yang nantinya menular kepada rakyat kita sendiri, dimana rakyat belum mampu untuk menjalankan demokrasi yang utuh (contoh: Demo anarkis, kerusuhan, tawuran dan lain sebagainya).

Untuk itulah mulai sekarang, marilah kita belajar berpikir secara dewasa, jangan sedikit-sedikit tidak puas, marah, tawuran, dan aksi-aksi lainnnya yang bertentangan dengan demokrasi yang sedang kita rajut bersama. Sudah saatnya Indonesia menjadi negara yang dapat ditiru oleh negara-negara lain, jangan hanya menjadi peng-copy dan pembeo negara lain.

Jika memang wacana demokrasi bukan hanya sebatas retorika, seharusnya kita dapat mewujudkan demokrasi yang utuh untuk Indonesia kini dan nanti.
Share:

0 comments:

Post a Comment