12.26.2011

A Road to Destiny

Pertengahan tahun 2010 merupakan sebuah tahun yang krusial bagi saya. Tahun itu merupakan tahun kelulusan saya dari sekolah menengah atas. Selain harus berjibaku dengan kelulusan, saya juga harus berpikir tentang kelanjutan studi. Selain masalah dimana harus melanjutkan studi, juga ada masalah yang lain, yaitu masalah keuangan, sebuah masalah yang sering membuat pupus harapan seorang siswa untuk melanjutkan studi.


Saya pun mulai beranjak dari tempat berpikir, saatnya melakukan sesuatu. Saya pun kemudian mulai mencari-cari informasi tentang scholarship. Tentunya scholarship untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi. Semua langkah saya tapaki untuk mendapatkan informasi yang saya butuhkan. Memang, zaman sekarang informasi scholarship merupakan hal sangat mudah untuk didapatkan. Namun untuk dapat diterima dan mencari pemberi beasiswa yang bonafide merupakan sebuah permasalahan yang lain.

Pada akhirnya, pilihan kembali jatuh kepada scholarship yang ditawarkan oleh Putera Sampoerna Foundation (PSF). Saya pun memulai serangkain proses pelamaran beasiswa, mulai dari mengunduh form aplikasi, mengisi form, lalu mengirimkannya. Sembari menunggu pengumuman hasil seleksi berkas, saya pun berharap agar bisa tetap menjadi keluarga besar Putera Sampoerna Foundation.

Hari itu pun datang. Ketika saya mendapat telepon bahwa saya lolos seleksi dokumen. Namun, perjuangan jelas belum selesai, tahap yang tak kalah penting yang harus saya
lewati adalah tahap wawancara.

Di hari wawancara, saya bertemu dengan banyak teman yang sama-sama merupakan calon penerima beasiswa. Semua membawa cerita masing-masing. Ada yang gelisah, ada yang excited sekali, ada yang sampai mules-mules karena grogi dan sebagainya.

Singkat cerita, proses wawancara telah terlewati. Tak berselang lama, finalist penerima beasiswa pun diumumkan. Lega rasanya bisa menjadi keluarga Sampoerna Foundationa untuk empat tahun kedepan. Walaupun ada rasa sedih, ketika tidak semua teman-teman calon penerima beasiswa yang saya temui bisa lolos.

Lengkap rasanya tahun itu, ketika saya diterima di Fakultas Hukum Universitas Udayana, walaupun sebenarnnya, ada banyak yang mempertanyakan pilihan saya untuk
melanjutkan studi di prodi ini.

Telepon pun berdering kembali, kali ini saya diminta untuk datang pada saat pengumpulan perdana bagi penerima beasiswa Sampoerna Foundationa Batch 2010. Saya pun excited dengan pertemuan perdana ini, selain karena akan bertemu dengan teman-teman yang dulu saya ajak wawancara bersama. Saya juga akan bertemu dengan kakak-kakak yang duluan menjadi penerima beasiswa Sampoerna Foundation untuk jenjang Undergraduate.


Pertemuan pun dimulai. Masih jelas diingatan saya bahwa hal yang pertama kali saya lakukan pada saat pertemuan itu adalah memperkenalkan diri sesuai arahan dari kakak senior. Kemudian acara dilanjutkan dengan pemilihan koordinator untuk angkatan saya. Pemilihan itu dimulai dengan pertanyaan “Siapa yang ingin untuk menjadi Koordinator untuk angkatan kalian?” Tanya seorang kakak senior.

Suasana yang tadinya gaduh, menjadi tenang seketika. Karena melihat tidak ada teman yang bereaksi, saya pun mengacungkan tangan. Sebentar dulu, saya bukan mengajukan diri menjadi koordinator, tapi menanyakan kepada kakak senior yang bertanya tadi tentang kualifikasi yang diharapkan dari orang yang ingin menjadi koordinator angkatan.

Tapi bukan jawaban yang saya dapatkan, malah perkataan “Bagaimana kalau kamu saja yang menjadi koordinator” pinta kakak senior itu. Singkat cerita, saya pun terpilih menjadi koordinator untuk angkatan saya.
Pertemuan selanjutnya, merupakan salah satu pertemuan yang sangat penting. Pertemuan yang mengawali lahirnya keluarga SFSC (Sampoerna Foundation Scholars Club) yang lebih solid. Pertemuan itu diperuntukkan sebagai pemilihan Presiden SFSC untuk tahun 2010. Ada lima calon pada pertemuan tersebut. Semuannya memang memiliki visi misi yang bagus. Namun, hanya satu orang saja yang nantinya dapat menjadi Presiden. Maka, pemungutan suara pun dilakukan.

A rendezvous with history kalau saya menyebutnya. Akhirnya terpilihlah, Kak I Gede Antara Putra sebagai Presiden SFSC Bali kala itu. Dibawah kepemimpinan kak Gede, sebuah perjalanan keluarga SFSC Bali baru saja dimulai.
Perjuangan pertama pun dimulai. Yaitu perjuangan untuk mencari rumah untuk keluarga baru ini. Sebuah base camp akhirnya dapat dimiliki pada Februari 2011. Cerita berlanjut ketika angkatan 2009 berkewajiban untuk melaksanakan Social Activity yang merupakan bentuk Corporate Social Responsibility dari Putera Sampoerna Foundation. Dibawah kepanitiaan yang dipimpin oleh Sarin Saraswati akhirnya semuanya dapat berjalan dengan baik.

Sampailah cerita ketika angkatan saya berkewajiban untuk Social Activity. Semua kami persiapkan dengan matang, dengan harapan mendapatkan hasil yang maksimal. Akhirnya semua dapat berjalan dengan baik di bawah kepanitiaan I Komang Tryanta Putra.
Menjadi seorang koordinantor angkatan merupakan sebuah perkara yang tidak mudah bagi saya. Namun, saya sudah belajar banyak dari teman-teman dan kakak-kakak saya di SFSC Bali ini. Tulisan ini sebenarnya merupakan sebuah cerita perpisahan, cerita perpisahan dengan kepengurusan SFSC Bali di bawah kepemimpinan Kak Gede. Banyak kesan memang yang membekas, semoga kepengurusan kedepan dapat melanjutkan dan mengembangkan apa yang ada hari ini.

Merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi saya bisa menjadi bagian dari keluarga besar Sampoerna Foundation. Beasiswa yang sudah membiayai saya sejak masih duduk di bangku sekolah menengath atas dulu. Sebuah cerita yang menemani saya dalam sebuah kisah yang bertajuk a road to destiny.

Share:

0 comments:

Post a Comment