12.17.2011

Anda Kecanduan Pornografi? Cobalah YourBrainOnPorn.com


Sebelum saya memulai pembahasan, ada baiknya kita menganalisa judul artikel ini agar yang belum tahu menjadi tahu. Setidaknya ada beberapa hal penting dari judul tersebut. Yang pertama kata kecanduan, lalu kata pornografi dan yang terakhir adalah kata YourBrainOnPorn.com.

Baik kata yang pertama, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) yang dimaksud dengan kecanduan adalah kejangkitan suatu kegemaran hingga lupa hal-hal yang lain.


Untuk kata yang kedua, ada baiknya kita langsung merujuk pada hukum positive tentang pornografi di Indonesia yaitu UU No, 44 tahun 2008 tentang Pornografi. Menurut pasal 1 ayat 1 UU No. 44 tahun 2008 yang dimaksud dengan Pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat.
Yang terakhir, YourBrainOnPorn.com merupakan sebuah situs di dunia maya yang menyediakan informasi yang mumpuni tentang kecanduan pornografi dan juga menyediakan semacam tutorial tentang cara mengatasi kecanduan tersebut.

Bon, cukup dengan analisa judulnya.

Anda laki-laki? Diatas 12 tahun? Belum pernah melihat pornografi seperti pengertian diatas?

Jika Anda menjawab belum pada pertanyaan ketiga, berarti Anda termasuk kedalam 10 % remaja Indonesia yang belum kenal pornografi, dan saya sangat menyarankan Anda untuk mempertahankan prestasi tersebut.

Pornografi merupakan sebuah masalah yang pelik di seluruh belahan dunia, terutama di Negara yang secara budaya tidak permissive dengan pornografi Publik. Apalagi di Indonesia, masalah pornografi seakan tidak pernah habis, bahkan pemerintah Indonesia sendiri membuat langkah menarik pada tahun 2008 dengan mengeluarkan UU No. 44 tahun 2008 tentang Pornografi. Namun, memang perlu disayangkan karena keluarnya UU tersebut belum menyelesaikan masalah, bahkan di beberapa lini malah menambah kerumitan masalah.

Pornografi bisa menyerang siapa saja, dari yang anak kecil sampai yang dewasa. Bahkan menurut survey yang dilakukan oleh Yayasan Kita dan Buah Hati melansir data yang mencengangkan. Dari survey yang dilakukan, sebanyak 67 persen dari 2.818 siswa Sekolah Dasar (SD) kelas 4-6 mengaku pernah mengakses informasi pornografi. Dari data itu, sebagian besar anak-anak masa depan bangsa itu melihat pornografi melalui media komik disusul media internet. Hebat bukan pornografi?

Pornografi dalam hal ini memang cenderung lebih menyerang kaum laki-laki daripada kaum perempuan. Dan cara kenalnya seseorang pada dunia pornografi juga sangat beragam, mulai dari komik, buku porno, majalah porno, bacaan porno, video porno dan internet. Yang terakhir ini yang sekarang mulai mengkhawatirkan banyak pihak, karena belakangan ini, Indonesia merupakan Negara dengan pertumbuhan pengguna internet terbanyak di Dunia dan juga sebagai Negara dengan pengakses situs porno terbanyak di Dunia.

Kecanduan pornografi memang ada tingkatnya, mulai dari yang tingkat rendah sampai yang tingkat tinggi. Hal ini memang sangat tergantung pada orangnya sendiri, terutama lingkungan, pendidikan, dan juga spiritualitasnya. Karena bagi mereka yang baru mengenal dunia pornografi, mereka sebenarnya tengah menghadapi ujian, bagi mereka yang kuat akan terhindar dari bahaya pornografi sedangkan bagi yang tidak kuat akan sebaliknya.

Hal yang sering dialami oleh seseorang yang mengalami kecanduan pornografi adalam keinginan akan sesuatu yang baru atau novelty. Hal ini terutama bagi mereka yang kecanduan tontonan porno, tingkat kecanduan akan mulai dari tontonan yang biasa-biasa saja, lalu ke hardcore, bondage, sesama jenis, incest, sampai yang bersama binatang (Bestialiti).

Walaupun proses peningkatan kecanduan tergantung kepada pecandu sendiri, namun bila pecandu sudah tidak bisa menemukan hal yang baru lagi (novelty), maka menurut penulis ada dua kemungkinan yang terjadi.

Yang pertama stressnya pecandu yang mengakibatkan hilangnya kemampuan untuk melakukan hubungan intim di dunia nyata. Hal ini secara nyata terjadi di Negara-negara yang setiap tahunnya menjadi produsen pornografi terbesar, misalnya saja jepang. Pada tanggal 14 Januari 2011, Japantimes pernah memberitakan penurunan keinginan pemuda jepang untuk berhubungan intim secara nyata karena sudah keranjingan pornografi, dan sampai saat ini pemerintah Jepang sedang berusahan untuk mencari solusinya.

Yang kedua – yang menurut penulis lebih berbahaya – adalah pecandu memulai mengalihkan kecanduannya di dunia nyata. Mulai dari free sex sampai lokalisasi. Hilangnya kontrol dari pecandu akan membuat makin memungkinnya pecandu melakukan hal-hal yang melanggar hukum, mulai dari pemerkosaaan dan lain sebagainya. Hal ini jelas akan menjadi sebuah hal yang sangat tidak diharapkan, karena bagimanapun juga bangsa kita sedang kehabisan stok (terutama generasi muda) manusia yang bisa membawa bangsa ini lebih baik kedepannya.

Oleh karena itu, tanpa berpanjang kata, penulis menyarankan bagi mereka yang merasa sudah mulai berkenalan dengan dunia pornografi segeralah mencari informasi, anda bisa mengakses situs YourBrainOnPorn.com sebagai salah satu referensi. Baca, lalu renungkan pilihan mana yang akan anda pilih, karena siapapun pada dasarnya tidak bisa memaksakan kehendaknya pada orang lain, namun saran saya pilihlah hal yang membuat hidup ini lebih bermakna, terutama bagi Indonesia.


NB: Bagi Anda yang ingin mengetahui apakah kecanduan pornografi atau tidak, bisa melakukan tes kecil ini. Cobalah tidak melihat pornografi dalam semua bentuknya dalam waktu tiga minggu saja. Jika berhasil, berarti Anda negative. Selamat mencoba.
Share:

2 comments:

  1. info yang bagus sayang situs itu dalam berbahasa inggris, ada yg mau menterjemahkan ?

    ReplyDelete
  2. @Nandang

    Terimakasi sudah mampir. Maksudnya menerjemahkan situs YourBrainOnPorn.com ya? Kalau memang demikian, coba pake google translate saja, hasilnya sudah lumayan. :)

    Selamat mencoba.

    ReplyDelete