6.20.2011

Indonesia tidak akan pernah maju?: Jujur=melawan arus di Indonesia?


Tidak dapat dipungkiri lagi, pendidikan merupakan sebuah hal yang sangat pengting. Kalau saja bisa dikembangkan dengan baik, pendidikan memiliki kekuatan yang sangat besar untuk mengubah haluan negeri ini. Sayang sekali pendidikan di Indonesia sama sekali tidak memenuhi kriterian pendidikan yang baik. Setidaknya itulah yang saya rasakan sejak menginjakkan kaki saya di lembaga pendidikan paling rendah di negeri ini hingga ke tingkat universitas.
Sebenarnya ada banyak hal yang menyebabkan Indonesia hanya mampu bertengger pada posisi ke-160 pendidikan dunia. Namun, ada hal-hal penentu yang perlu disebutkan dalam tulisan ini, diataranya adalah:

- Kesalahan mindset pengajar  Terutama para pengajar pendidikan dasar. Para guru di pendidikan dasar kita (SD) biasanya mengawali proses belajar mengajar dengan mengatakan semua yang baik-baik tentang Indonesia. Cerita mereka diawali dengan mengatakan bahwa Indonesia merupakan Negara dengan kepulauan terbesar di dunia, kemudian pendudukan ke-4 terbesar di dunia, sumber daya yang melimpah, dan merupakan sebuah Negara besar.
Walaupun hal ini sebagian benar adanya. Namun, tanpa didasari para pengajar diatas telah menanamkan benih-benih pemalas pada otak bawah sadar muridnya yang masih belum tahu realita kehidupan di Indonesia. Para anak didik ini akan menanamkan pada dirinya bahwa Indonesia merupakan sebuah Negara yang kaya, jadi menghilangkan perasaan khawatir mereka dan membuat mereka kurang memiliki semangat yang tinggi.
Berbeda sekali dengan Negara jepang, sebuah Negara yang pernah di bom atom dua kali oleh AS. Mereka mengawali pengajaran mereka dengan mengatakan pada anak didiknya bahwa Negara mereka merupakan sebuah Negara yang miskin. Sebuah Negara yang sangat membutuhkan kerja keras dalam pembangunannya. Inilah yang mendorong Negara jepang memiliki daya pemulih yang sangat besar ketika menghadapi sebuah bencana besar.
- Kesalahan mind set anak didik  anak didik di Indonesia, mulai dari siswa sampai mahasiswa kebanyakan tidak mengetahui esensi dari belajar yang sesungguhnya. Mereka kebanyakan hanya mengejar nilai diatas kertas bukannya memahami proses belajar dari tidak tahu menjadi tahu. Hal inilah yang membuat para anak didik di Indonesia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai yang bagus tanpa menghiraukan proses mendapatkannya.

Salah satu kasus yang sangat besar adalah kasus mencontek, sebuah kasus kecurangan yang terjadi ketika ujian pelajaran. Contek-mencontek seakan menjadi sebuah kewajiban dan membuatnya sebagai seseuatau yang layak dilakukan dengan berbagaimacam alasan. Sayangnya, hal ini juga berlaku di kalangan mahasiswa. Mereka yang seharusnya menjadi para intelektual muda malah tidak bisa mengetahui apa itu intelektualitas.


Bahkan, dalam praktek, banyak siswa dan mahasiswa yang mencoba jujur malah dikucilkan dari lingkungannya. Untungnya untuk hal ini, kita sudah mendapatkan contoh nyatanya, yaitu kasus siamin dan alif yang diusir oleh lingkungannya karena melaporkan kecurangan dalam sebuah ujian. Inilah sebuah hal yang sangat aneh dan tragis yang terjadi di negeri ini.

SOLUSI
Untuk poin pertama, saya yakin sudah dapat diketahui dengan jelas solusinya, yaitu dengan mengadopsi negeri sakura dalam mengajar anak didiknya. Kemudian tentang poin kedua, memang harus ada langkah-langkah yang dilakukan. Saya menyebutnya sebagai sebuah sistem perbaikan, yaitu:
1. Menghilangkan sistem orientasi nilai dalam pendidikan Indonesia. Tanpa dihapusnya sistem ini pendidikan yang berorientasi nilai ini, maka otomatis membuat sistem perbaikan pendidikan tidak akan perna bisa dimulai. Karena budaya hanya mengejar nilai sudah dengan sangat baik tertanam dalam benak anak didik Indonesia. Oleh karena itu, tanpa dihapus, maka anak didik kita akan terus dibayang-bayangi oleh sistem itu.
2. Membenahi sumber daya pengajar. Sekarang ini, pengajar di Indonesia juga menyumbang dalam tumbuh suburnya kecurangan di Indonesia. Banyak pengajar yang mencoba menutup-nutupi praktek kecurangan di sekolahnya masing-masing dengan alasan ingin mengangkat nama baik sekolahnya. Hal inilah sangat keliru sekali.
3. Melakukan penjurusan lebih dini. Seharusnya penjurusan sudah dilakukan pada saat siswa menginjak SMP. Karena hal ini akan membuat siswa lebih berfokus dalam menekuni bidang yang diminatinya. Sehingga dapat menghasilkan output yang professional bukannya amatiran.

Itulah yang menurut penulis merupakan hal besar yang membuat pendidikan di Negara ini tidak maju. Walaupun, memang masih banyak sekali hal-hal yang mempengaruhi, namun jika mau membenahi dua hal diatas, saya kira akan ada sebuah perubahan yang signifikan dalam perbaikan pendidikan Indonesia.
Note: Untuk seterusnya, penulis akan melanjutkan penulisan dengan tema yang sama yaitu, “Indonesia tidak akan pernah maju?”, sampai penulis yakin untuk menjawab tema itu sendiri.

Tulisan ini sebelumnya sudah dipost di Kompasiana.com, atau bisa klik disini
Share:

3 comments:

  1. Incidentally, I like the way you have structured your site, it is super and very easy to follow. I have bookmarked you and will be back regularly. Thank you

    Study in USA | Study in UK

    ReplyDelete
  2. mencontek. saya baru saja menangisi kawan2 saya yang menghalalkan segala cara untuk meraih nilai tinggi dalam ujian. jujur, saya sendiri juga mau meraih nilai terbaik. tapi, saya pikir Tuhan tak mau saya mencontek. untuk apa saya berdoa dan belajar, kalau toh akhirnya mencontek juga.
    sakit memang terkadang menerapkan kejujuran. tapi saya terlalu percaya bahwa Tuhan pasti memberikan kemenangan kepada orang2 yang menerapkan kejujuran.
    amin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Situmorang! Terima kasih atas kejujurannya! Semoga selalu sukses! All the best!

      Delete