12.02.2010

Antara Parfum, Asap Rokok dan Bau Kaki

Akhirnya Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Mahasiswa Tingkat Menengah (LKMM-TM) se-Bali selesai juga. Pelatihan yang diikuti sekira 70 orang dari 10 universitas yang berbeda memberikan kesan tersendiri bagi para pesertanya. Hal ini juga saya rasakan sebagai salah satu peserta kegiatan tersebut.
Sejak upacara pembukaan pelatihan, kesan ilmiah dan pembelajaran sudah mulai menjalar diantara peserta pelatihan. Ini terlihat dari antusiasme para peserta. Bahkan salah satu universitas yang ikut dalam kegiatan ini berasal dari Universitas Petra Surabaya. Hal ini seakan menambah semangat para peserta pelatihan untuk dapat membangun jejaring yang lebih luas.

Acara yang dihelat kurang lebih tiga hari dan dua malam tersebut terjadwal dengan rapi. Acara yang terkesan cukup padat mendorong para peserta untuk dapat menjaga keadaannya masing – masing agar dapat optimal dalam setiap sesi kegiatan. Setelah upacara pembukaan, acara dilanjutkan dengan materi yang dibawakan oleh seorang aktivis tahun ’98. Beliau adalah bapak Fadjroel Rahman. Penempatan beliau sebagai first speaker dalam pelatihan ini juga dapat dikatakan memberikan stimulus dan meletakkan sebuah mind set yang baru kepada para peserta. Sebuah dasar yang sungguh berguna dalam materi-materi selanjutnya.
Selain bapak Fadjroel Rahman, hadir pula beberapa pembicara yang sudah tidak asing lagi dikancah Bali maupun Indonesia. Salah satunya adalah Bapak “Gendo” yang dulunya juga merupakan salah satu aktivis dari Universitas Udayana. Berbeda dengan para pembicara yang lain. Bapak “Gendo” memberikan materi yang agak berbeda. Beliau menerangkan sebuah materi teknis tentang bagaimana caranya mahasiswa menggelas aksi yang sistematis.
Selain materi dari para pembicara, pelatihan juga diisi dengan focus group discussion yaitu diskusi kelompok tentang masalah-masalah yang spesifik. Ada pula studi kasus dimana para peserta diajak untuk turun langsung ke masyarakat (masyarakat di Br. Batu Bidak). Dari diskusi dan studi kasus tersebut para peserta didorong untuk dapat menyampaikan gagasan dari masalah-masalah yang mereka temukan baik dalam diskusi maupun dalam studi kasus.
Pada hari terakhir, giliran pembicara dari KPK yang memberikan proposal tentang cara pemberantasan korupsi di Indonesia. Merupakan sebuah materi yang menarik dan memberikan pemahaman baru bagi para peserta pelatihan.
Selain kemampuan akademis diatas, pada coffee break misalnya, para peserta juga dituntut agar mampu bersosialisasi dengan baik antar sesama peserta. Hal ini tentunya utamanya dirasakan bagi mereka yang menjadi teman-teman satu kamar. Peserta belajar untuk dapat mengertia keadaan, watak, dan sifat dari orang lain. Belajar mengerti ketika bau parfum, asap rokok dan bau kaki menjadi satu.
Share:

0 comments:

Post a Comment