10.02.2010

Kesalahan Intelek Para Kaum Intelektual

Berbicara tentang pergerakan mahasiswa (sengaja ditulis miring dengan harapan mendapat perhatian lebih dari pembaca) memang tidak akan pernah lepas dari pengertiannya, sejarahnya, dan tentunya semangat yang ada di dalamnya. Namun merupakan sebuah hal yang sangat disayangkan ketika ketiga hal utama diatas belum jelas kedudukannya dalam pemikiran para kaum intelektual kita (baca: mahasiswa).

Pertama, tentang pengertian dari pergerakan mahasiswa. Banyak sekali para kaum intelek kita yang keliru mendefinisikan istilah pergerakan mahasiswa. Oleh karena itu penyederhanaan ruang lingkup bahasan dengan jalan memberikan pengertian perbagian sebelum diartikan secara intergral merupakan hal yang dipandang perlu.

Kata pertama dari istilah pergerakan mahasiswa adalah kata “pergerakan” dalam konteks ini banyak yang mengartikan kata pergerakan dengan kata demonstrasi, unjuk rasa, anarkisme dan hal-hal yang bersifat menggunakan fisik lainnya. Padahal secara leksikal dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (selanjutnya ditulis KBBI saja) kata “pergerakan” dapat diartikan: perihal atau keadaan bergerak; kebangkitan (untuk perjungan atau perbaikan)2. Dari definisi tersebut dapat ditarik sebuah benang merah bahwasanya kata pergerakan bukan hanya berarti tindakan yang hanya melibatkan fisik samata. Tapi juga hal-hal lain dan cara-cara lain yang pada intinya ingin menyuarakan sebuah perjuangan dan perbaikan sesuai dengan definisi yang diberikan KBBI diatas. Jadi merupakan kesalahan yang radikal (mendasar) bilamana ada kalangan intelek yang menafsirkan kata “pergerakan” dengan sebuah cara menyampaian gagasan yang menggunakan kekuatan fisik semata.

Kata kedua adalah “mahasiswa”. Ditilik dari sudut pandang etimologisnya kata mahasiswa terdiri dari dua kata yaitu maha dan siswa kata maha berasal dari bahasa Sanskerta / Pali yang bisa berarti mulia atau besar (bukan dalam pengertian bentuk). Kata “maha” bukan berarti “sangat”. Jadi adalah salah jika penggunaan kata “maha” dipersandingkan dengan kata seperti besar menjadi maha besar yang berarti sangat besar ataupun. Sedangkan siswa juga berasal dari kata Sansekerta yaitu “sisya” yang berarti seseorang yang sedang mencari kebenaran yang sejati (ilmu pengetahuan) jadi dapat diketengahkan bahwa arti kata mahasiswa adalah sesorang yang sedang mencari kebenaran yang sejati dengan jiwa yang mulia.

Jadi sebenarnya istilah pergerakan mahasiswa itu mempunyai cakupan arti yang sangat luas, namun apabila dirangkum dapat diartikan sebagai sebuah perjuangan menuju perbaikan yang dilakukan oleh seseorang yang sedang mencari kebenaran sejati serta dijiwai dengan semangat yang mulia.

Kedua, tentang sejarah. Ternyata krisis pemikiran juga terjadi dalam ranah sejarah pergerakan mahasiswa itu sendiri. Padahal sejarah merupakan sebuah hal yang akan mendeterminasi kekinian dan masa depan kehidupan. Walaupun bukan merupakan kunci utama sebuah kehidupan, sejarah setidaknya dapat digunakan sebagai sebuah “kaca spion” kehidupan. Dimana kita tidak selalu menangisi masa lalu, namun melihat masa lalu sebagai sebuah pembelajaran sembari tetap mengemudikan motor kehidupan. Inilah yang tampaknya masih belum diresapi oleh banyak kaum intelektual kita. Tidak mengerti tentang sejarah sebuah pergerakan nantinya akan mengakibatkan butanya mahasiswa akan ajektifitas konteks perjuangan dan perbaikan itu sendiri.

Ketiga, tentang semangat. Semangat disini identik dengan idealisme kaum intelektual sendiri. Tak dapat dipungkiri bahwa angakatan pasca-reformasi ini memiliki semangat yang meledak-ledak namun kembang-kempis dan kurang intens. Dikatakan kurang intens karena dewasa ini makin seringnya ditemukan kaum intelektual yang kehilangan idealismenya setelah keluar dari zona kepentingannya. Dapat diambil contoh, banyak sekali mahasiswa yang pandai beretorika di jalan-jalan, menentang kebijakan pemerintah, namun setelah keluar dari zona kepentingannya tersebut dan bergabung dengan lembaga pemerintahan malah melakukan hal-hal yang tempo hari di kecamnya.

Sungguh ironis memang, hal ini bahkan pernah disinggung oleh tokoh pergerakan mahasiswa Indonesia yaitu Soe Hok Gie, beliau bahkan pernah mengadiahkan bedak dan pupur kepada mereka para mantan pejuang angkatan 66 (yang setelah bergabung dengan pemerintahan kehilangan idealismenya) dengan harapan agat mereka dapat bersolek didepan para penguasa saat itu.3

Semua hal yang menusuk hati tersebut bila terus dibiarkan berlarut-larut akan
menggerus makna hakiki dari pergerakan mahasiswa. Disinilah diperlukan sebuah pemikiran yang applicable dan mendalam tentang masalah ini, sehingga generasi muda yang akan melanjutkan sejarah negeri tercinta ini memiliki sebuah bekal dalam menjalankan tugas mulia tersebut, dan tentunya agar tidak terjadi sebuah cut generation dalam konteks pergerakan mahasiswa itu sendiri.
Akhir kata, itulah sebuah tesis tentang kesalahan atau mungkin dapat disebut sebuah kekeliruan intelek para kaum intelektual sendiri. Andai kata suatu saat tesis ini melahirkan sebuah anti-tesisnya sendiri yang lahir dari pemikiran para pemerhati pergerakan mahasiswa, maka saat itu merupakan saat yang tepat untuk kita merumuskan dan memproyeksikan masa depan pergerakan mahasiswa.


Foot note:
1.Ditulis sebagai sebuah prasayarat pendaftaran BEM PM UNUD.
2. KBBI, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional 2008.
3 Soe Hok Gie : Catatan Seorang Demonstran, Pustakan LP3ES Indonesia 2005.

Share:

0 comments:

Post a Comment