12.08.2009

Sebuah Pemikiran Dari, Oleh dan Untuk Remaja Hindu

Om Swastiastu,

Masalah silih berganti menghampiri umat Hindu, jangan terlalu jauh mengambil contoh, di Negara tercinta ini khususnya di pulau Bali yang mayoritas penduduknya beragama Hindu, masalah sudah menjadi kerikil yang selalu mencoba menghambat perjalanan umat Hindu.Mulai dari masalah yang kecil hingga yang besar, mulai dari masalah antar umat, sampai pada masalah konversi, proselitasi dan masalah yang laten pun ada yaitu sebuah pemikiran Universalisme Radikal (meminjam istilah dari Dr. Frank Gaetano Morales, Ph.D.) yang kian menggerogoti logika umat Hindu.

Namun di tengah banyaknya masalah ini, kita harus bertatap muka dengan sebuah ironi yang kalau mau dipikir, sebetulnya merupakan sebuah hal yang tidak perlu ada. Apa itu?
Adalah sebuah ketidaksadaran, ketidaksadaran akan adanya masalah-masalah kecil yang menginfiltrasi keberagamaan kita. Dan hal ini menjadi semakin pelik, ketika masalah ini tidak disadari oleh mereka yang kelak akan mengemban tugas yang berat untuk melanjutkan tradisi keagamaan yang sudah berjalan berabad-abad lamanya, merekalah para generasi muda kita, atau tepatnya generasi muda Hindu kita.

Disini saya akan memberikan sebuah kisah nyata yang saya alami sendiri. Hari itu, saya berbincang dengan teman saya yang sama-sama masih duduk di bangku SMA. Di tengah percakapan itu, saya sempat menyinggung tentang hal-hal yang berkaitan tentang agama dan apa pendapatnya tentang agama yang sudah dianutnya sejak pertama kali lahir sebagai manusia kedunia ini.

Apakah menurut kamu semua agama yang ada sama? Itulah pertanyaan yang pertama kali saya ajukan. “Sama, karena semua agama berujung pada kebenaran” itu yang sontak diucapkan oleh lawan bicara saya itu. Namun, setelah sedikit debat yang argumentatif, tiba-tiba jawabannya berubah 180 derajat. “Beda, karena setiap orang memiliki pandangannya sendiri-sendiri tentang agama, dan tujuan utama agama masing-masing juga relatif berbeda”.

Pertanyaan yang kedua. Apakah pemahaman mu tentang agama Hindu sudah cukup? “Belum”, itulah kira-kira jawabannya. Adakah usaha untuk memperdalamnya? Itulah pertanyaan saya terakhir, tapi jawaban untuk pertanyaan saya terakhir yang ini agak membuat saya terperangah. “Buat apa sih kamu mikirin hal ginian, mending mikirin kuliah dulu”.

Inilah gambaran pemuda Hindu kita saat ini, khususnya bagi mereka yang tinggal di Bali. Memang tidak dapat dijadikan sebuah data akurat untuk mencerminkan cara pikir (mindset) seluruh pemuda Hindu, namun setidaknya inilah kenyataan (sebuah bahaya laten) yang sering kita temukan di masyarakat.

Lalu, sebagai hasil pengkajian dari proses kausalitas, akan muncul sebuah pertanyaan. Siapa yang salah dalam kasus-kasus (cases) semacam ini? Pemuda kitakah? Orang tua? Masyarakat? Atau pemerintah? Jawabannya tidak ada pada empat opsi yang saya berikan diatas. Sebenarnya jawabannya berada sangat dekat dengan kita, bahkan selalu kita bawa kemanapun kita pergi, bahkan melekat dan mengganggu diri kita setiap hari, itulah sifat, tepatnya sifat buruk dari manusia.

Mungkin kalau seperti ini akan menjadi jawaban yang terlalu umum, maka jika dispesifikkan lagi akan menjadi sebuah sifat ketidaksadaran manusia (unconsciousness). ketidaksadaran tentang pentingnya sebuah ilmu tentang agama dan spiritualitas, ketidaksadaran tentang hal yang dianggapnya kecil, namun sebetulnya sangat mempengaruhi identitasnya sebagai seorang manusia.

Untuk memperjelas hal ini, marilah kita beranologi. Di desa A sungai sangat mudah untuk ditemukan, keberadaan sungai ini sangat membantu kehidupan warga sekitar untuk sehari-harinya. Tidak hanya sebagai tempat untuk mandi, air sungai digunakan untuk mencuci dan bahkan untuk dikonsumsi. Apa yang salah dari analogi diatas? Tidak ada. Kesalahan mulai muncul ketika sifat ketidaksadaran manusia ( human unconsciousness) muncul. Ketika warga desa memberikan “hadiah” sampah-sampah ke sungai, ketika kehadiran pabrik pupuk ditepi sungai yang mencemari sumber air desa itu dilegitimasi dengan alasan atau motif ekonomi. Ketidaksadaran inilah yang menyebabkan tercemarnya sumber penghidupan di desa tersebut. Ketika penyakit mulai menyerang warga desa karena mandi dan mengkonsumsi air yang tidak lagi sehat seperti dulu, ketika sebagian warga desa berebut bantuan makanan akibat banjir yang setiap tahun menjadi langganan mereka (akibat pencemaran sungai), barulah mereka agak sadar tentang kesalahan besar yang telah mereka lakukan sejak dulu.

Ketika ketidaksadaran mulai menginfiltrasi kehidupan pemuda Hindu, mereka sebenarnya sedang membenam benih kerusakan masa depan (future destruction). Ketidaksaran semacam apakah itu? Ketidaksadaran akan identitas diri mereka, identitas agama yang sudah lama dianutnya.

Remaja, merupakan sebuah tahapan menuju sebuah pendewasaan, karena ini sebuah proses maka tidak mungkin untuk dihindari apalagi untuk ditiadakan. Ditahapan inilah manusia mulai melakukan identifikasi tentang dirinya sendiri, mulai melakukan pengkajian tentang apakah orientasi hidupnya. Ditahapan inilah mereka menanyakan tentang apa yang harus dan apa yang menjadi pedoman dalam menjalani hidup ini. Orang tua dan lingkungan mereka akan menjawab pertanyaan tersebut dengan sebuah kata “AGAMA” khusunya “AGAMA HINDU”.

Seiring dengan perkembangan pola pikir mereka, berkembang pula keingintahuan mereka tentang agama yang kata orang tua dan lingkugan mereka sebagai sebuah pedoman hidup. Nah, disinilah letak kelemahan masyarakat kita dan khusunya para orang tua kita, dimana ketika para remaja menanyakan tentang hal-hal yang lebih mendalam, hal-hal yang logis dari keyakinan mereka, banyak dari orang tua kita tidak bisa memberikan penjelasan yang tepat, bahkan tidak jarang melenceng dari substansi pertanyaan para remaja tersebut.

Inilah yang menyebabkan kebingungan dikalangan para remaja Hindu, yang membuat mereka tidak memiliki pengetahuan tentang makna dari agama dan ritual-ritual yang mereka lakukan dalam menjalani hidup mereka. Sehingga mereka sangat goyah dalam spiritualitas, sangat rentan dengan konversi atau proselitasi agama, apalagi dengan serbuan para penganut agama yang agresif.

Disinilah diperlukan sebuah KESADARAN dari setiap insan Hindu utamanya para remaja Hindu, sehingga mereka mendapatkan pengetahuan yang cukup tentang konsepsi agama dan tradisi yang akan mereka emban dan wariskan kepada genarasi setalah mereka.

Disini dibutuhkan kajian yang lebih dalam oleh para pemikir Hindu, masyarakat, dan juga pemrintah untuk dapat mengatasi masalah laten seperti ini. Memang hal ini akan menjadi sebuah tantangan berat yang harus dipikul oleh semua umat Hindu, namun sudah kewajiban untuk kita melakukan apa yang dapat dan harus kita lakukan sebagai umat beragama Hindu. Oleh karena itulah, disini saya mengajak seluruh umat Hindu, khususnya para remaja Hindu untuk membangun sebuah kesadaran spiritual, kesadaran tentang agama Hindu, sehingga tujuan hidup kita tidak lagi menjadi sebuah yang samar, dan membangun generasi muda Hindu yang tak mudah dibujuk untuk dikonversi menjadi seseorang yang berbeda.

Sebagai akhir dari tulisan ini, saya ingin mengutipkan sebuah sloka dari Bagawad Gita, yaitu sloka 40 pada Bab II (Samkhya Yoga), yang berbunyi sebagai berikut:

“Tiada pengorbanan yang sia-sia,
Tiada rintangan yang tak dapat diatasi
Walaupun sedikit dari Dharma ini
Akan membebaskan kita dari cengkeraman penderitaan”


Om santi, santi, santi Om.



Share:

2 comments:

  1. Semua kembali pada pribadi masing", kalau saya cenderung menerima perubahan dan menyaring yang terbaik, jadi disaat saya menemukan ilmu baru akan saya saring dulu, begitu juga dengan agama, saya diingatkan kembali tentang pentingnya agama, olehkarena itu saya menerima masukan itu dan mendalami lagi agama yang terakhir saya dapatkan ilmunya 2 tahun yang lalu, sekarang lebih dalam lagi karena bisnis berdasarkan agama tepatnya dharma akn menuai sukses luar biasa

    ReplyDelete