12.14.2009

Hindu Akan Ada Untuk Selamanya

“Agama Hindu telah ada sejak dahulu kala
dan akan ada selamanya.
Di dalam Sanatana Dharma ini
terdapat semua bentuk pemujaan – pemujaan Tuhan
dengan bentuk dan juga pemujaan Tuhan tanpa bentuk.
Agama ini mengandung semua jalan :
Jalan pengetahuan, jalan bhakti, jalan kerja,
jalan kontemplasi dan seterusnya.”

(Ramakrishna Paramahamsa, guru Swami Vivekananda,
dalam sebuah dengan percakapan seorang muridnya pada tanggal 9 Maret 1884)

Om Swastiastu,

Itulah sepenggal percakapan antara sang guru dengan salah satu muridnya, terlihat bahwa mereka sedang membicarakan sebuah agama besar dan tertua sepanjang sejarah manusia. Dari percakapan itu pula sang guru memberitahu muridnya bahwasanya Hindu sudah ada sejak zaman yang sangat lama, bahkan orang bijaksana mengatakan bahwa agama Hindu merupakan sesuatu yang tak berawal dan tak juga berakhir (anadi dan ananta).

Dalam perjalanannya agama Hindu tak hanya memikirkan tentang pertumbuhan dan perkembangan ajarannya. Agama Hindu juga melahirkan agama – agama besar lainnya. Ngakan Made Madrasuta dalam bukunya yang berjudul Hindu Akan Ada Selamanya menulis bahwa agama Hindu merupakan ibu agama – agama. Dari agama Hindu telah lahir tiga agama dunia : Buddha, Jain dan Sikh. Siddhartha Gautama, yang ketika mendapapat pencerahan disebut Sang Buddha, lahir sebagai seorang pangeran Hindu, Sudodhana, di kerajaan Kapilavastu. Para pengikutnya kemudian yang memisahkan diri dengan membentuk sistem kepercayaan baru, yang disebut Buddha Dharma. Guru Nanak, juga seorang Hindu, yang kemudian membentuk agama Sikh, dengan mengambil sebagian besar bahan dari agama Hindu dan sedikir dari agama Islam.

Hindu, pertama kali dikenal oleh manusia, mengajarkan tentang sifatnya yang universal (bukan universalisme radikal), sifatnya yang sangat toleran dengan agama – agama dan denominasi yang muncul belakangan. Hindu tak pernah mengajarkan pada umatnya untuk melakukan kekerasan kepada umat dari agama lain, apalagi untuk melakukan tindakan proselitasi. Hindu tak pernah mengajarkan bahwa kebenaran hanya ada dijalannya, bahwa orang – orang yang berada diluarnya adalah orang terkutuk, pengikut setan dan lain sebagainya. Inilah yang menyebabkan umat Hindu sangat toleran dan sangat menghargai hak orang lain untuk memiliki kepercayaan yang berbeda sesuai dengan esensinya sebagai manusia. Umat Hindu tak pernah diajarkan bahwa sorga adalah monopoli mereka, bahwa semua manusia diluar Hindu akan masuk neraka dan sebagainya.


Hal inilah yang menyebabkan umat Hindu di seluruh dunia, khususnya umat Hindu di Negara tercinta kita Indonesia tetap cinta dengan Hindu, tetap bisa membangun keluhuran Hindu tidak hanya di kehidupan nyata, tapi juga di hati mereka masing – masing.

Hindu bisa menjaga, bahkan mengembangkan ajaran – ajarannya dengan tetap menghormati agama dan kepercayaan yang dianut oleh orang lain. Umat Hindu menggambarkan keadaan ini sebagai sebuah sifat keuniversalitasan Hindu. Swami Vivekananda (seorang ahli pikir Hindu moderen) mengatakan bahwasanya agama yang universal harus dapat memenuhi kecenderungan semua jenis manusia : manusia yang aktif, pekerja; manusia yang emosional, pecinta keindahan dan kelembutan; manusia yang menganalisis dirinya sendiri; penekun mistik; manusia yang mempertimbangkan semua hal dan menggunakan inteleknya, pemikir sang filsuf.

Untuk memenuhi kecenderungan semua jenis manusia ini, Hindu telah menyediakan empat jalan untuk umatnya, yaitu Karma Yoga bagi sang aktif, Bhakti Yoga bagi sang pencinta, Raja Yoga bagi sang mistikus dan Jnana Yoga bagi sang filsuf. Inilah hal – hal mendasari keuniversalitasan Hindu tapi bukan merupakan sebuah universalisme radikal.

Saya jadi teringat akan perkataan seorang filsuf german - Arthur Schopenhauer – bahwasanya,

“Ini meyakinkan keyakinan orang banyak bahwa Weda adalah abadi dan tak dapat dijawab oleh manusia dan bahwa Weda berasal dari Brahman, yang merupakan penciptanya”

Dengan pengetahuan, semangat dan pun tekad yang dimiliki oleh umat Hindu khususnya para pemuda Hindu, perkataan yang disampaikan sang guru kepada muridnya, seperti yang sudah dituliskan diatas adalah benar adanya. Sekaranglah saatnya untuk kita berbenah diri, intropeksi diri, sehingga pesan Dharma dari para Acharya, Maharesi, Guru Hindu dan Dharma itu sendiri tetap tersampaikan, sampai pada batas waktu yang tak terbatas atau dengan kata lain “ADA UNTUK SELAMANYA”


Om santi, santi, santi Om.


Share:

0 comments:

Post a Comment