3.22.2016

A recent study conducted by Oxfam has shown that in the very near future the world’s richest 1 percent will control almost 50 percent of global wealth. This obviously is not a good news for the rest 99 percent of the world population. Having this in mind, the effort of enhancing the global economic resiliency will be a lot more complex than ever before. Especially if it is conducted without a synergy from all parties.

Source: http://churchthought.com/wp-content/uploads/2011/09/uncertainty.jpg
Let us now imagine what would be the world’s next economic turbulence. A little research would show that the looming WTO’s free market in 2020, the ASEAN Economic Community, China’s stagnant economy and Russia’s future crisis are some potential factors of turbulence. 
Of course, some scholars and schools of thought would insist that free market, for instance, is a blessing. However, unfortunately, seeing the current trends on how countries around the globe design their public policy towards regional integration, it is rather safe to say that there is a looming danger of having pre-mature, free-trade areas. ASEAN Economic Communities, for instance, with the deadline passed, had not been able to catch up with its own time frame, making it lagging behind its own schedule of integration. 
Now, the big question is how to prepare the world, especially the least developed and developing countries, in facing this turbulence? From the financial regulation perspective, the world needs a legal reformation. The world needs a legal platform which could assist the distribution of wealth among nations in order to fill the economic gap or at least minimizing it, this platform would be a very important milestone in building a healthier international financial architecture. 
 
A better international tax mechanism is what the world needs to accelerate the distribution of wealth, this could be done, for instance, by strictly enforcing the tax law especially within the 1 percent elite group as mentioned above. 
A proactive anti-corruption mechanism which involves the tri-sectors (civil societies, private corporations and governments) synergy is also urgently needed. The ugly truth is that corruption is still the biggest issue faced by many countries in the world especially in Africa and South East Asia. In ASEAN for instance, based upon Transparency International’s data, there are still two countries in the list of the 23 most corrupt countries in the world, while many others South East Asia countries are still in the 100 most corrupt countries in the world. 
Corruption is particularly dangerous because it affects many sectors nationally. It does not only affect the national economy of one’s country, it also affects the health systems, education systems, and basically ruins the future of a nation. Moreover, corruption in a large scale also affects regional and international community, therefore it is also a big international problem.
There must be an active and concrete actions carried out by countries in the region in order to tackle these issues. With regard to the potential solutions, firstly, a better education systems to educate young people on the destructive effects of corruptions as well as to teach them how to prevent corruptive actions need to be established. Secondly, there must be a legal reformation in order to build a better legal regime on the prevention of corruptive actions conducted by government agencies or individuals.
It is very obvious that what is written in this note is too short to explain what the world needs to do to become more resilience and to be more prepared for the next global economic turbulence. However, let this note be a kind reminder and a bird overview on steps that need to be carried out while engaging on a more thorough discussion in the subject.

Facing the World’s Next Economic Turbulence: A Bird Overview

3.17.2016


Virtual Reality (VR) atau Realita Semu adalah sebuah teknologi yang memungkinkan manusia untuk merasakan atau mensimulasikan suatu hal yang tidak nyata sebagai suatu kenyataan. Sebagai contoh, dengan kemajuan teknologi, kita bisa membuat sebuah gambar 360 derajat atupun video 360 derajat menggunakan perangkat VR tentang kota kondisi Monas di Jakarta yang nantinya dapat diliha kembali menggunakan perangkat VR viewer sehingga memberikan kesan kepada pengguna dimana dia seolah-seolah merasa photo atau video yang diputar dia alami sendiri sebagaimana dikehidupan nyata. 

Lumayan rumit untuk menjelaskan apa yang dialami seseorang kita menggunakan teknologi VR, sama seperti mendeskripsikan bagaimana rasanya jatuh cinta, biasanya cara yang terbaik untuk mengerti apa yang dialami adalah dengan mengalaminya langsung. 

VR teknologi merupakan salah satu teknologi terbaru yang tersedia untuk khalayak remain. Walaupun sebenarnya ide untuk VR sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu (tahun 1950an) namun ketersedian teknologi yang bisa dipasarkan baru tersedia beberapa tahun belakangan.


Sebagai sebuah teknologi baru tentunya diperlukan edukasi untuk memahami sesuatu yang baru. Syukurnya pengalaman VR bisanya lebih menyenangkan dari pada pengalaman patah hati. Selain itu ada banyak jalan yang dapat ditempuh agar bisa mencicipi VR.

VR maker
VR maker merupakan perangkat teknologi yang dapat membuat suatu momen yang nantinya dapat digunakan dan dinikmati sebagai suatu VR. Untuk games dan aplikasi VR tentunya memerlukan perangkat dan keahlian tertentu dalam pembuatannya. Namun untuk video dan gambar VR sudah dapat dibuat oleh semua orang dengan ponsel pintarnya dengan menggunakan aplikasi tertentu, misalnya Cardboard Camera. 

VR viewer
VR viewer merupakan sebuah perangkat yang menjembatani pengguna dengan layanan VR, baik itu gambar, video, games, ataupun aplkasi lainnya. Sampai saat ini ada beberapa VR viewer yang tersedia dipasaran. Ada beberapa cara yang dapat ditempuh untuk merakasan pengalaman VR. Selain bisa menggunakan perangkat khusus yang didedikasikan untuk VR, ponsel pintar sudah dapat digunakan sebagai instrument VR dengan VR viewer tertentu. Namun demikian, tidak semua ponsel pintar yang dapat digunakan sebugai medium VR, ada standar hardware yang harus dimiliki oleh sebuah ponsel agar dapat menghadirkan pengalaman VR yang baik. 

Spesifikasi dasar biasanya adalah memiliki display yang baik, minimal 1080p resolution dengan 3 giga RAM dan lain sebagaiknya. 

Berikut akan dibahas beberapa VR viewer dari yang paling mudah dan murah pagi para pengguna pemula VR sampai pada VR viewer yang sudah menyuguhkan teknologi tertinggi dikelasnya.

·         - Oculus Rift
Oculurs Rift merupakan pemimpin barisan VR viewer dengan teknologi yang paling mumpuni di kelasnya. Oculus Rift menawarkan pengalaman yang paling komprehensi dan mengesankan bagi para pengguna VR. Namun dengan teknologi tinggi yang digunakan dan juga tingkat kepuasan pengalaman VR, Oculus Rift merupakan perangkat VR viewer yang paling mahal tersedia di pasaran, saat ini harganya sekitara 7-8 juta per perangkat.  

·        -  Samsung Gear VR
Bekerjasama dengan Oculus, Samsung berusaha menghadirkan pengalaman VR kepada para pengguna ponsel pintarnya. Dengan bekerjasama dengan Oculus, Samsung Gear VR dapat dikatakan salah satu viewer yang dapat menghadirkan pengalaman VR yang hampir menyerupai Oculus Rift dengan harga yang lebih murah dalam kisaran 1,5 – 2 juta.

Namun salah satu kelemahannya adalah Samsung Gear VR hanya dapat digunakan pada ponsel Samsung tertentu saja. Sehingga tidak dapat digunakan pada ponsel Samsung yang tidak memenuhi kriteria tertentu dan tidak juga bisa digunakan untuk ponsel android jenis lain.

·        -  Entry Level VR
Setingkat lebih tinggi dari Google Cardboard, entry level VR, salah satunya Homido VR, sudah memberikan kenyamanan yang lebih kepada para pengguna. Peningkatan kenyamanan ini dapat dilihat dari beberapa aspek. Pertama entry level VR biasanya sudah memerhatikan sisi estetis dari VR, jika pada Cardboard viewer material yang digunakan adalah karton, pada entry level VR bahan dasar yang digunakan bisanya sudah berupa plastic.

Kedua, lensa yang digunakan pada entry level VR biasanya memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan lensa yang digunakan pada cardboard VR. Hal ini tentunya akan menghadirkan pengalaman VR yang lebih baik untuk para pengguna. Namun tentunya dengan tingkat kenyamanan yang lebih baik membuat entry level VR memiliki harga yang lebih tinggi bila dibantikan dengan Cardboard. Entry level VR biasanya berharga dibawah 1 juta rupiah.

·       -  Google Cardboard
Sebagaimana namanya, Google Cardboard dibuat dengan menggunakan karton. Google Cardboard merupakan salah satu pionir dalam dunia VR, Cardboard juga sangat berjasa dalam menghadirkan VR yang murah (sekitaran 30 rb – 300 rb rupiah) dan mudah sehingga membuatnya terjangkau bagi masyarakat dari segala kalangan. 


Masa Depan
VR masih memiliki masa depan yang sangat panjang. Dengan penetrasi pasar yang baru saja dimulai, masih terdapat ratusan juta pasang mata yang siap mencoba pengalaman VR. Sampai saat ini teknologI VR secara ekstensif digunakan pada dunia game, namun kedepannya kita akan melihat penggunakan VR di bidang lain dalam kehidupan, terutama pada bidang edukasi.
VR teknologi sudah dirancang agar dapat digunakan untuk mengajari para calon dokter proses pembedahan organ sehingga para calon dokter bisa memiliki pengalaman yang lebih “nyata” dalam melakukan operasi dan sebagai hasil akhirnya bisa lebih siap dalam melakukan operasi dalam dunia nyata. 
 
Sebagai akhir kata, sebagaimana teknologi pada umumnya, pasti memiliki sisi gelapnya tersendiri. Dengan segala manfaat yang dapat dirasakan dari VR, selalu ada cara untuk menyalahgunakan VR untuk hal hal yang negatif. Pengenalan dan edukasi perihal penggunakan teknologi VR perlu dilakukan sejak sedini mungkin.
Masih ada pertanyan? Let me know!

NB: Artikel ini akan diupdate sewaktu-waktu.

Sebuah Perkenalan: Apa itu Virtual Reality (VR)?

11.22.2015

Jasmani yang sehat dan mental yang kuat adalah dua persyaratan penting yang juga harus dimiliki seseorang yang ingin melanjutkan sekolah ataupun kuliah diluar negeri. Apa yang bisa dilakukan seseorang untuk mempersiapkan diri dan mental mereka? Berkut beberapa tips:



1.       Adaptasi sejak dini

Hal yang tentunya harus disadari adalah ketika kita berpindah ke negara lain, tentunya akan ada banyak hal yang berubah. Agar dapat melalui dengan baik perubahan yang terjadi, seseorang harus melakukan adaptasi. Untungnya, seseorang dapat mempersiapkan dirinya untuk mencoba beradaptasi dengan perubahan yang akan diaalami bahkan sebelum orang bersangkutan berangkat ke negara yang dia tuju.

Pertama, kalian bisa belajar dengan mencoba perubahan makanan yang kiranya akan kalian alami disana. Contoh, jika kalian natninya akan pindah ke eropa atau amerika, cobalah dulu mencicipi dan membiasakan lidah dengan tipikal makanan eropa dan amerika ketika masih di Indonesia.

2.       Perubahan Cuaca

Bersiap dengan membawa pakaian yang kiranya nanti diperlukan. Cek musim yang sedang berlangsung di negara yang dituju sehingga pakaian yang dibawa bisa menyesuaikan. Namun jangan juga kebanyak membawa pakaian ya.. hehe

3.       Perubahan perilaku

Perubahana perilaku ini bisa bermacam-macam, bisa dari perubahan cara berinteraksi dengan orang lain. Cara menyara orang lain dan lain sebagainya. Intinya adalah kalian dipastikan akan menemukan sesuatu hal yang baru yang mungkin bagi sebagian orang tabu atau aneh. Namun cobalah untuk open minded, coba lakukan analisa kenapa ada perbedaan dan hormati perbedaan itu.

Contoh lain, misalnya adalah perubahan tingkah laku di dalam kelas. Jika kalian bersekolah di Eropa atau Amerika, jangan kaget melihat mahasiswi/a yang berdebat sengit dengan dosen, namun nanti akhir kelas kembali saling lempar senyum. Selain itu, misalnya didalam kelas, ketika ada perbedaan pendapat tidak perlu meninggikan suara, yang perlu diperkuat hanyalah argumentasi kalian saja.

4.       Perubahan waktu

Jet lag merupakan keadaan yang haru kalian antisipasi sejak dini. Kejala jet lag yang paling sering dialami adalah susah tidur karena perbedaan jam di Indonesia dengan negara yang dituju. Misalnya kalian di Amerika, maka jika di Amerika baru 7 malam, maka di Indonesia sudah jam 7 pagi keesokan harinya.

Hal yang dapat dilakukan untuk menghindari jet lag yang parah adalah dengan tidur di pesawat sesuai dengan jam. Ataupun jika sudah sampai, usahakan tidur sesuai dengan jam. Misalnya, cobalah tahan kantuk ketika di tinggal di Amerika jam 11 siang, walaupun semua teman-teman di Indonesia sudah pada tidur nyenyak, karena di Indonesia sudah jam 11 malam.

5.       Belajar masak

Agar dapat bertahan hidup dan berhemat di luar negeri, memiliki kemampuan memasak sangatlah penting. Kemampuan memasak makanan Indonesia juga akan sangat bermanfaat saat suatu ketika sangat merindukan masakan Indonesia. Hal ini juga akan sangat berguna ketika ada kegiatan kebudayaan dimana kalian bisa menunjukkan rasa makanan Indonesia khas buatan kalian sendiri.

Jadi, mulai sekarang hilangkan lah mental hanya menghadalkan masakan ibu saja, wkwkkw. Saatnya belajar memasak dengan ibu tercinta (atau bapak tercinta).

6.       Perubahan mental yang lain

Akan banyak terdapat perubahan ketika seseorang belajar di luar negeri. Perubahan ini tentunya bisa bersifat positif atau malah sebaliknya. Sehingga kematangan dan kedewasaan seseorang dalam menghadapi perubahan yang dimaksud sangatlah penting. Pahamilah kalian bergaul dimana, jaga diri, jaga mental, dan teruslah berbenah.

Persiapan Diri dan Mental: Persiapan Belajar di Luar Negeri

Universitas dan Jurusan merupakan rumah kedua bagi seorang mahasiswi/a. Sebagaimana sebuah rumah, sebelum pindahan kerumah yang dimaksud, seseorang harus benar benar mengetahui tipe rumah apa yang diinginkan, fasilitas apa yang diperlukan, dan juga kemampuan dari penghuni baru untuk memastikan bahwa semua urusan yang menyangkut rumah barunya tersebut akan berjalan dnegan lancar.

Berikut beberapa hal yang kiranya dapat dipertimbangkan bagi calon mahasiswi/a baru dalam memilih Universitas dan jurusan untuk melanjutkan studi di luar negeri:

1.      Jenis Universitas

Pada dasarnya di luar negeri ada dua jenis universitas, yang pertama adalah Research university, yaitu merupakan universitas yang lebih mengkhususkan diri pada penelitian. Sehingga pada kampus jenis ini, mahasisiwi/a akan lebih diajari bagaimana cara melakukan dengan baik dan benar. Sedangkan pada tipe kampus yang kedua adalah kampus Applied. Dimana dalam kampus ini lebih menekankan pada pembelajaran biasa sebagaimana umumnya.

2.      Besar Kecilnya kampus

Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah besarnya kampus, hal ini tentunya, pada sebagian orang, bisa mempengaruhi kenyamanan dalam melaksanakan studi. Beberapa orang nyaman dengan kampus yang besar dengan mahasiswi/a lebih dari 30000, namun ada juga beberapa diantara kita yang lebih senang dengan kampus yang relatif lebih kecil dan lebih sunyi.

3.       Jenis Housing yang ditawarkan

Ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama apakah kampus menawarkan housing sendiri atau mahasiswa harus mencarinya sendiri. Ini penting, karena kalua harus mencari sendiri, mahasiswi/a harus mempersiapkan dirinya lebih matang lagi sehingga bisa mendapatkan housing tepat waktu.

Kedua, apakah housing yang ditawarkan sesuai dengan yang diharapkan. Apabila jawaban dari pertanyaan pertama diatas adalah iya, maka yang perlu selanjutnya diperhatikan adalah jenis housing yang di siapkan. Salah satu yang penting adalah, apakah di asrama dalam satu kamar bisa berbeda gender atau tidak. Hal ini penting, karena jangan sampe nanti terkejut tenyata punya teman sekamar yang berbeda gender, walaupun bagi sebagian orang hal ini bukanlah sebuah masalah.

4.       Dry atau wet campus?

Khususnya bagi kalian yang merencanakan untuk kuliah di Amerika, disana pada umumnya ada dua jenis kampus, yaitu wet dan dry campus. Pada dasarnya wet kampus adalah kampus yang mengizinkan konsumsi minum beralkohol di dalam atau sekitar area kampus dimana dry kampus merupakan kebalikannya. 



5.       Sistem pembelajaran

Hal yang sangat penting untuk diperhatikan, karena system yang dipakai kampus yang dituju tentunya akan membantu menentukan baik buruknya kualitas pendidikan yang nantinya akan didapatkan. Sebagai gambaran adan kampus yang biasa seperti di Indonesia, ada juga kampus yang mengembangkan metodenya sendiri, misalnya Maastricht University yang menggunakan system PBL atau Problem Based Learning.

6.       Kualitas, Bahasa dan Tuition fee
Kalau tentang kualitas jangan ditanya lagi, harus kalian pastikan ya! Untuk Bahasa juga harus diperhatikan jangan sampai ternyata kalian hanya mempersiapkan Bahasa Inggris, sedangkan jurusan yang kalian ambil ternyata juga memakai Bahasa lain, contohnya Bahasa jerman. Jadi lihat dengan teliti detail jurusan yang kalian ambil ya.

Tuition fee juga harus diperhatikan, yah kalian taulah kenapa kan? Heheh

7.       Jurusan yang diambil

KW, tidak bisa memberikan gambaran detail tentang bagian ini. Karena hanya mahasiswi/a yang bersangkutan yang tau jurusan apa yang harus diambil. Namun, sebagai gambaran umum perhatikan minat, bakat, passion dan proyeksi tersedianya lapangan kerja untuk jurusan yang diambil

Memilih Universitas dan Jurusan untuk Kuliah di Luar Negeri

 
Kakang Web © 2015 - Designed by Templateism.com